Isbat Nikah among Muslim Communities in Aceh: Legal Compliance or Reactive Administrative Necessity

Authors

  • Mansari Mansari Universitas Iskandar Muda Banda Aceh
  • Khairuddin Hasballah Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
  • Soraya Devy Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
  • Fauziati Fauziati Pengadilan Agama Cikarang
  • Siti Sahara Universitas Samudra

DOI:

https://doi.org/10.58824/mediasas.v9i1.470

Keywords:

Isbat Nikah, Legal Awareness, Muslim Community, State Law

Abstract

 This study analyzes the implementation of isbat nikah (marriage legalization) among Muslim communities in Aceh, examining whether it is driven by genuine legal awareness or merely administrative necessity—often used reactively to obtain birth certificates, inheritance rights, or access to social assistance. The central issue arises when isbat nikah is perceived merely as a shortcut to legalize previously unregistered marriages, rather than as a legal process reflecting compliance with the state’s normative legal framework. The purpose of this research is to examine the meaning of isbat nikah in the context of legal consciousness within society and to identify its legal position as an instrument for resolving socio-religious problems. The research employs a normative juridical method with both conceptual and statutory approaches to examine the legal basis of isbat nikah as regulated in the Compilation of Islamic Law, Law No. 1 of 1974 on Marriage, and the procedural provisions of the Religious Courts. Data analysis was conducted descriptively and analytically through the examination of legal norms and the interpretation of empirical practices evolving within society. The findings reveal that the practice of isbat nikah is predominantly motivated by administrative needs rather than genuine legal awareness. Muslim communities tend to interpret isbat nikah as a legal mechanism to obtain state recognition for marriages already valid under religious law, with its primary function serving administrative purposes. The legal position of isbat nikah plays a crucial role in resolving socio-religious issues stemming from unregistered marriages and in providing legal protection for women and children. However, public compliance with isbat nikah remains reactive and administrative in nature, driven by practical needs rather than a normative understanding of legal obligation.

[Penelitian ini menganalisis pelaksanaan isbat nikah di kalangan masyarakat Muslim di Aceh yang dilakukan atas dasar kesadaran hukum atau kepentingan administratif sebagai respons reaktif untuk pengurusan akta kelahiran anak, warisan, atau kepentingan administrasi lainnya. Permasalahan utama muncul karena isbat nikah dimaknai semata sebagai jalan pintas legalisasi perkawinan yang sebelumnya tidak tercatat, bukan sebagai proses hukum yang mencerminkan kepatuhan terhadap norma hukum negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis makna isbat nikah dalam konteks kesadaran hukum masyarakat serta mengidentifikasi posisi hukum isbat nikah sebagai instrumen penyelesaian masalah sosial keagamaan. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dan yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan untuk menelaah dasar hukum isbat nikah yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, serta ketentuan peradilan agama. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitis melalui penelaahan norma hukum dan interpretasi terhadap praktik empiris yang berkembang di masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna pelaksanaan isbat nikah lebih didorong oleh kebutuhan administratif daripada kesadaran hukum yang sejati. Isbat nikah dimaknai masyarakat sebagai sarana hukum untuk memperoleh pengakuan negara atas perkawinan yang telah sah secara agama, dengan fungsi utama sebagai pemenuhan kebutuhan administratif. Posisi hukum isbat nikah berperan penting dalam menyelesaikan problem sosial keagamaan akibat perkawinan tidak tercatat serta memberikan perlindungan hukum bagi perempuan dan anak. Ketaatan masyarakat terhadap isbat nikah masih bersifat reaktif dan administratif, dipengaruhi oleh kebutuhan praktis, bukan oleh kesadaran hukum yang lahir dari nilai normatif.]

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ali, Z. (2021). Metode Penelitian Hukum. Sinar Grafika,.

Aziz, A., & Mutakin, A. (2024). International Journal of Religious and Itsbat Nikah in the Legality of Marriage Law in Indonesia?: International Journal of Religious and Interdisciplinary Studies (IJoRIS), 1(March), 1–20.

Bedner, A., & Van Huis, S. (2010). Plurality of marriage law and marriage registration for Muslims in Indonesia: a plea for pragmatism. Utrecht Law Review, 6(2), 175. https://doi.org/10.18352/ulr.130

Brian Z. Tamanaha. (2013). A Vision of Social-Legal Change: Rescuing Ehrlich from ‘Living Law.’ Law & Social Inquiry, 36(1), 297–318.

Dina, I. A. (2025). Pengaruh Budaya dan Tradisi terhadap Nikah Siri di Indonesia. Landraad: Jurnal Syariah & Hukum Bisnis, 4(1), 87–96.

Fadli. (2021). Implikasi Yuridis terhadap Penerbitan Kartu Keluarga bagi Pasangan Nikah Siri Indonesia. Mediasas: Media Ilmu Syari Jurnal Dan Ahwal Al-Syakhsiyyah, 4(01), 82–91.

Fajriyyah, L., & Alfitri, A. (2022). Hearsay Evidence Admissibility: Due Process and Evidentiary Rules in Muslim Marriage Legalization (Isbat nikah). Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum, 16(3), 265–292. https://doi.org/10.25041/fiatjustisia.v16no3.2464

Farida, I., YD, N. K., & Baroroh, U. (2023). Pengadilan Agama Pemalang Tahun 2021 ). LEX et ORDO Jurnal Hukum Dan Kebijakan, 1(1), 84–90.

Hamzah, Armin, R. A., & Sirajuddin, A. (2019). Penegakan Hukum Terhadap Prinsip Persamaan Kedudukan Di Hadapan Hukum (Perspektif Hukum Islam). Al-Amwal: Journal of Islamic Economic Law, 4(2), 187–199. https://doi.org/10.24256/maddika.v1i1.1814

Isdiyanto, I. Y. (2018). Problematika Teori Hukum, Konstruksi Hukum dan Kesadaran Sosial. Jurnal Hukum Novelty, 9(1), 54–69.

Kamaruddin. (2016). Membangun Kesadaran dan Ketaatan Hukum Masyarakat Perspektif Law Enforcement. 9(2), 143–157.

Kautsar, I. Al, Muhammad, D. W., Hukum, F., Maret, U. S., Hukum, F., Yogyakarta, U. M., & Hukum, S. (2022). Sistem Hukum Modern Lawrence M. Friedman: Budaya Hukum dan Perubahan Sosial Masyarakat dari Industrial ke Digital. Jurnal Sapientia et Virtus |, 7(2), 84–99.

Khairuddin, J. (2017). Pelaksanaan Itsbat Nikah Keliling dan Dampaknya terhadap Ketertiban Pencatatan Nikah (Studi Kasus di Kabupaten Bireuen). Samarah: Jurnal Hukum Keluarga Dan Hukum Islam, 1(2), 322.

Kurdi, S., Mubibah, J., & Faizah, U. (2017). Konsep Taat Kepada Pemimpin (Ulil Amri) Di Dalam Surah an-Nisa?: 59, Al-Anfal?:46 Dan Al-Maidah?: 48-49 (Analisis Tafsir Tafsir Al-Qurthubi, Al-Mishbah, Dan Ibnu Katsir). Jurnal of Islamic Law and Studies, 1(1), 13. https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/jils/article/view/2552

Mansari, Khairuddin, Devy, S., Irwansyah, & Rais, M. (2025). Division of Joint Assets Based on the Implementation of Responsibilities Analysis of Sharia Court Decisions Based on Jurisprudence and Their Legal Implications in Banda Aceh. El-Usrah Jurnal Hukum Keluarga, 8(2).

Mansari, Zainuddin, M., & Khairuddin. (2023). Status Perkawinan Akibat Penolakan Itsbat Nikah ( Kajian Putusan Nomor 206/Pdt . G /2021/MS . Bna). Yudisial, 16(1), 121–141. https://doi.org/10.29123/jy/v16i1.534

Marzuki, P. M. (2006). Penelitian hukum. Prenada Media.

Melizar, Jamaluddin, & Faisal. (2024). Pelaksanaan Isbat Nikah terhadap Perkawinan Siri (Studi Kasus di Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon). Jurnal Suloh Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, 12(2), 324–342.

Mukti Fajar, Y. (2015). Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris. Pustaka Pelajar.

Murlinus. (2023). Membangun Kesadaran dan Ketaatan Hukum Masyarakat Perspektif Law Enforcement. Qawwam: The Leader’s Writing, 4(1), 60–69.

Mutakin, A. (2017). Teori Maqashid Al Syari’ah dan Hubungannya dengan Metode Istinbath Hukum. Kanun, Jurnal Ilmu Hukum, 19(3), 547–570. https://jurnal.usk.ac.id/kanun/article/view/7968

Muthalib, S. A. (2022). Pengesahan Isbat Nikah Perkawinan Poligami Kajian Putusan Nomor 130/Pdt.G/2020/Ms.Bna. El-Usrah, 5(2), 224–238. https://doi.org/10.22373/ujhk.v5i2.16040

Nazah, F. N., & Husnia. (2018). Kepastian Hukum Isbat Nikah dalam Hukum Perkawinan. 6(2), 241–263.

Nurlaelawati, E. (2013). Pernikahan tanpa Pencatatan: Isbat Nikah Sebuah Solusi? Musãwa Jurnal Studi Gender Dan Islam, 12(2). https://doi.org/10.14421/musawa.2013.122.261-277

Parjono, Suwito, Sari, L., & Tuharea, F. (2024). Perlindungan Hukum Perkawinan Tidak Tercatat Melalui Isbat Nikah di Pengadilan Agama Wamena. 3(2), 71–82.

Pribadi, R. W., & Heniarti, D. D. (2025). Perkawinan Sirri Kajian Itsbat Nikah Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Keadilan Pernikahan siri di Indonesia merupakan salah satu persoalan sosial di masyarakat yang harus diperhatikan dan dipikirkan solusinya , khususnya Jawa Barat masih sangat. Tasyri’ Journal of Islamic Law, 4(2), 687–715.

Reskiani, A. (2025). Pemahaman Remaja Muslimah atas Hak Perkawinan: Studi Hukum Islam pada Komunitas Resik. Al-Mustla?: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Dan Kemasyarakatan, 7(1), 461–492. https://doi.org/10.46870/jstain.v7i1.1868

Safitri, I. (2019). Dampak Pernikahan Siri Terhadap Status Hukum Anak. Journal of Knowledge and Collaboration, 3(2), 290–294. https://ojs.arbain.co.id/index.php/jkc/index

Salman Abdul Muthalib, M. (2022). Keewenangan Hakim Melaksanakan Mediasi Pada Perkara Istbat Nikah Dalam Rangka Penyelesaian Perceraian. Al-Ahkam Jurnal Syariah dan Peradilan Islam. 2(2).

Solekah, N. N., & Zulaicha, S. (2024). Implikasi Penolakan Itsbat Nikah Terhadap Status Anak. Sakina: Journal of Family Studies, 8(1), 135–149. https://doi.org/10.18860/jfs.v8i1.5706

Sudjana. (2021). Pelindungan paten dalam perspektif fungsi hukum sebagai kontrol sosial dan rekayasa sosial. Dialogia Iuridica, 13(November), 61–78.

Sururie, R. W. (2017). Isbat nikah terpadu sebagai solusi memperoleh hak identitas hukum. Ijtihad?: Jurnal Wacana Hukum Islam Dan Kemanusiaan, 17(1). https://doi.org/10.18326/ijtihad.v17i1.113-133

Syahir, A., Hasan, A., & Umar, M. (2023). Kepatuhan Terhadap Hukum (Sebuah Perspektif Filsafat Hukum). Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory, 1(4), 930–944. https://doi.org/10.62976/ijijel.v1i4.246

Triwahyuningsih, & Darojat, A. (2025). Peran Pendidikan Hukum dalam Meningkatkan Kesadaran dan Ketaatan Hukum Masyarakat Indonesia. Jurnal Ilmiah Advokasi, 13(3), 939–954.

Wazzan, R. K., Luth, T., Widhiyanti, H. N., & Sulistyasrini, R. (2024). Itsbat Nikah: Legalizing marriage outside the record in Indonesia. International Review of Social Sciences Research, 4(2), 29–45. https://doi.org/10.53378/353057

Windani, S., Meiliawati, I., & Ayu, R. (2025). Legal Protection for Children in Unregistered Marriages (Nikah Siri) in Indonesia. International Journal of Research and Review, 12(4), 215–223. https://doi.org/10.52403/ijrr.20250426

Yanto, O. (2020). Negara Hukum: Kepastian, Keadialn dan Kemanfaatan Hukum (Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia). Penerbit Pustaka Reka Cipta.

Yusri. (2024). Isbat Nikah dan Konsekuensinya terhadap Perlindungan Perempuan dan Anak (Studi Kasus di Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh). Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

Zainuddin, A. (2022). Legalitas Pencatatan Perkawinan melalui Penetapan Isbat Nikah. Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law, 2(1), 60. https://doi.org/10.30984/ajifl.v2i1.1942

Downloads

Published

2026-02-25

How to Cite

Mansari, M., Hasballah, K. ., Devy, S. ., Fauziati, F., & Sahara, S. . (2026). Isbat Nikah among Muslim Communities in Aceh: Legal Compliance or Reactive Administrative Necessity. Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari’ah Dan Ahwal Al-Syakhsiyyah, 9(1), 106–121. https://doi.org/10.58824/mediasas.v9i1.470